Produksi dan Produktivitas Perkebunan Karet Di Sumatera Utara

Tanaman Karet

wp-image--1477980432

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi. Karet merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Latin, khususnya Brasil. Sebelum dipopulerkan sebagai tanaman budidaya yang dikebunkan secara besar-besaran, penduduk asli Amerika Selatan, Afrika, dan Asia sebenarnya telah memanfaatkan beberapa jenis tanaman penghasil getah. Karet masuk ke Indonesia pada tahun 1864, mula-mula karet ditanam di kebun Raya Bogor sebagai tanaman koleksi. Dari tanaman koleksi karet selanjutnya dikembangkan ke beberapa daerah sebagai tanaman perkebunan komersial.

Tanaman tahunan ini dapat disadap getah karetnya pertama kali pada umur tahun ke-5. Dari getah tanaman karet (lateks) tersebut bisa diolah menjadi lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet. Kayu tanaman karet, bila kebun karetnya hendak diremajakan, juga dapat digunakan untuk bahan bangunan, misalnya untuk membuat rumah, furniture dan lain-lain.

Menurut KEMENPERIN (2012),   Prospek industri karet masih terbuka luas sejalan dengan bergesernya konsumsi karet dunia dari Eropa dan Amerika ke Asia. Untuk itu, industri karet harus mampu berproduksi maksimal apalagi pasokan karet domestik semakin besar pascapembatasan ekspor. Indonesia memiliki areal karet paling luas di dunia, yaitu 3,4 juta ha dengan produksi karet per tahun 2,7 juta ton. Meski begitu, produktivitasnya hanya 1,0 ton/ha, lebih rendah daripada Malaysia (1,3 ton/ha) dan Thailand (1,9 ton/ha). Produksi karet di Indonesia, Thailand, dan Malaysia berkontribusi 85% dari total produksi dunia. Namun, Indonesia memiliki kesempatan paling besar untuk memimpin industri karet dunia. Harga karet dunia saat ini masih mengalami tekanan akibat turunnya permintaan. Oleh karena itu, tiga negara utama produsen karet alam bersepakat menahan penurunan harga dengan mengurangi ekspor sejak Agustus lalu. Artinya pasokan karet di dalam negeri akan semakin melimpah.

  1. Produksi Karet di Indonesia

Pohon karet memerlukan suhu tinggi yang konstan (26-32oC) dan lingkungan yang lembab supaya dapat berproduksi maksimal. Kondisi-kondisi ini ada di Asia Tenggara tempat sebagian besar karet dunia diproduksi. Sekitar 70% dari produksi karet global berasal dari Thailand, Indonesia dan Malaysia.

Sebatang pohon karet memerlukan waktu tujuh tahun untuk mencapai usia produksinya. Setelah itu, pohon karet tersebut dapat berproduksi sampai berumur 25 tahun. Karena siklus yang panjang dari pohon ini, penyesuaian suplai jangka pendek tidak bisa dilakukan.

Berdasarkan negara penghasil karet pada tahun 2014:

  1. Thailand    (4.070.000)
  2. Indonesia  (3.200.000)
  3. Malaysia    (1.043.000)
  4. Vietnam    (1,043.000)
  5. India          (   849.000)

dapat dilihat, bahwa Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua di dunia. Kebanyakan hasil produksi karet di Indonesia kurang lebih 80%, diproduksi oleh petani-petani kecil. Umumnya, produksi karet di Indonesia berasal dari provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Total luas perkebunan karet Indonesia telah meningkat secara stabil selama satu dekade terakhir. Di tahun 2015, perkebunan karet di negara ini mencapai luas total 3,65 juta hektar. Karena prospek industri karet positif, telah ada peralihan dari perkebunan-perkebunan komoditi seperti kakao, kopi dan teh, menjadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan karet. Jumlah perkebunan karet milik petani kecil telah meningkat, sementara perkebunan pemerintah dan swasta telah agak berkurang, kemungkinan karena perpindahan fokus ke kelapa sawit.

Sekitar 85% dari produksi karet Indonesia diekspor. Hampir setengah dari karet yang diekspor ini dikirimkan ke negara-negara Asia lain, diikuti oleh negara-negara di Amerika Utara dan Eropa. Lima negara yang paling banyak mengimpor karet dari Indonesia adalah Amerika Serikat (AS), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang, Singapura, dan Brazil. Konsumsi karet domestik kebanyakan diserap oleh industri-industri manufaktur Indonesia (terutama sektor otomotif).

Menurut Direktorat Jendral Perkebunan, luas areal dan produksi karet dari status pengusahaan tahun 2012-2016, dapat dilihat dalam tabel:

Tabel 1. Luas Areal Perkebunan Karet Tahun 2012-2016

Tahun Luas Areal (ha)
PR /Smallholder PBN / Government PBS / Private Jumlah
2012 2.977.918 259.005 269.278 3.506.201
2013 3.026.020 247.068 282.859 3.555.946
2014 3.067.388 229.940 308.917 3.606.245
2015 *) 3.070.508 230.900 320.179 3.621.587
2016 **) 3.072.769 231.707 335.219 3.639.695

Tabel 2. Produksi Karet Tahun 2012-2016

Tahun Produksi (Ton)
PR / Smallholder PBN / Government PBS / Private Jumlah
2012 2.377.228 304.602 330.424 3.012.254
2013 2.655.942 255.616 325.875 3.237.433
2014 2.583.439 227.783 341.964 3.153.186
2015 *) 2.520.472 228.876 358.912 3.108.260
2016 **) 2.553.928 231.716 372.141 3.157.785

Tabel 3. Ekspor-Impor Karet Tahun 2012-2015

Tahun Ekspor Impor
Volume (Ton) Nilai (US$) Volume (Ton) Nilai (US$)
2012 2.444.503 7.861.947 26.908 69.804
2013 2.701.995 6.906.952 24.527 52.045
2014 2.623.471 4.741.574 28.753 48.343
2015 *) 2.009.712 2.924.307 24.864 32.229

Keterangan:

  1. PR (Perkebunan Rakyat)
  2. PBN (Perkebunan Negara)
  3. PBS (Perkebunan Swasta)
  4. Angka Sementara *)
  5. Angka Estimasi **)

Dibandingkan dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki level produktivitas per hektar yang rendah. Hal ini ikut disebabkan oleh fakta bahwa usia pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan dengan kemampian investasi yang rendah dari para petani kecil, sehingga mengurangi hasil panen. Sementara Thailand memproduksi 1.800 kilogram (kg) karet per hektar per tahun, Indonesia hanya berhasil memproduksi 1.080 kg/ha. Baik Vietnam (1.720 kg/ha) maupun Malaysia (1.510 kg/ha) memiliki produktivitas karet yang lebih tinggi.

Industri hilir karet Indonesia masih belum banyak dikembangkan. Saat ini, negara ini tergantung pada impor produk-produk karet olahan karena kurangnya fasilitas pengolahan-pengolahan domestik dan kurangnya industri manufaktur yang berkembang baik. Rendahnya konsumsi karet domestik menjadi penyebab mengapa Indonesia mengekspor sekitar 85% dari hasil produksi karetnya. Kendati begitu, di beberapa tahun terakhir tampak ada perubahan (walaupun lambat) karena jumlah ekspor sedikit menurun akibat meningkatnya konsumsi domestik. Sekitar setengah dari karet alam yang diserap secara domestik digunakan oleh industri manufaktur ban, diikuti oleh sarung tangan karet, benang karet, alas kaki, ban vulkanisir, sarung tangan medis dan alat-alat lain.

  1. Proyeksi Produksi Karet Tahun 2017

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memprediksi produksi karet dalam negeri tahun ini berpotensi terdongkrak dari produksi tahun 2016. Hal itu disebabkan karena naiknya harga karet sehingga membuat minat petani karet menyadap kembali naik. Berdasarkan data Gapkindo, perkiraan produksi karet tahun 2016 sebesar 3,182 juta ton. Sementara pada tahun 2017 diproyeksikan bisa mencapai 3,277 juta ton atau naik sekitar 2,98%.

Menurut Direktur Eksekutif Suharto Honggokusumo, mengatakan faktor penyebab kenaikan produksi karet tahun ini adalah kenaikan harga karet yang sudah mencapai Singapore Exchange Limited (SGX) US$ 2,2 per kilogram (kg) atau US$ 2,8 berdasarkan perdagangan Tokyo Commodity Exchange (Tocom).

Namun Indonesia menggunakan SGX. Sebelumnya pada Maret 2016 harga karet sempat menyentuh US$ 1,03 per kg. Kenaikan harga karet menjadi salah satu pemicu optimisme naiknya produksi karet tahun ini.

Terdapat dua faktor penyebab kenaikan harga karet:

  1. Faktor Fundamental

dimana kenaikan penjualan mobil di China mencapai 6% pada tahun 2016 sehingga mendorong peningkatan konsumsi karet. Sementara pada waktu bersamaan produksi karet berkurang karena banjir dan hujan terjadi di Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang merupakan negara produsen karet.

Naiknya harga minyak dunia di atas US$ 50 per kg. Meskipun tidak ada hubungan karet sitentis yang bahan bakunya minyak, dengan karet alam, tapi ini mempengaruhi faktor psikologis pasar.

  1. Faktor Teknis

Seperti cuaca yang terjadi pada tahun lalu juga membuat produksi karet anjlok karena hujan yang berkepanjangan. Di sisi lain, pada bulan Februari hingga April tahun ini akan terjadi gugur daun pada tanaman karet yang mempengaruhi produksi karet.

Sumber:

http://fpertanianunasshellaesterina.blogspot.co.id/2017/06/produksi-karet-di-indonesia.html

Iklan

2 tanggapan untuk “Produksi dan Produktivitas Perkebunan Karet Di Sumatera Utara”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s