indirect and mutual holding

INDIRECT HOLDING

  • indirect ownership is an investment that allows investors to control or significantly affect other companies not through direct share ownership, but through their subsidiaries. The indirect holding structure consists of two kinds: the parent-child-grandchild (Parent-Child-Grandchild) structure and the connected affiliate structure (Affinity Bound).

MUTUAL HOLDING

  • Mutual holding is defined as share ownership by an affiliated company. The mutual holding structure is of two forms: the parent stock is owned by a subsidiary and the subsidiary’s shares are owned by another subsidiary

SUMMARY

  • Indirect holding is an investment that allows investors to control or significantly affect other companies not through direct share ownership, but through their subsidiaries. The indirect holding structure consists of two kinds, namely father-son-grandson structure and connected affiliate structure.
  • Mutual holding is a shareholding by an affiliated company. The mutual holding structure is of two forms: the parent stock is owned by a subsidiary and the subsidiary’s shares are owned by another subsidiary.
  • From a consolidated point of view, the parent stock owned by a subsidiary is not included in the outstanding shares. Therefore, in the consolidated financial statements, the shares will be reported as treasury shares and will be deducted from the stockholders’ equity consolidation at their cost value

KEPEMILIKAN LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG

Pemilikan Tidak Langsung

                Yang dimaksud dengan Pemilikan tidak langsung adalah investasi yang memungkinkan investor untuk mengendalikan atau mempengaruhi secara signifikan perusahaan lain tidak melalui kepemilikan saham langsung, melainkan melalui anak perusahaannya. Struktur indirect holding terdiri dari dua macam yaitu struktur induk-anak-cucu (Induk-Anak-Cucu) dan struktur afiliasi terkoneksi (Afilitas Terikat).

Indirect holding ( struktur anak cucu )

                Perushaan A mempunyai saham B 80%, B mempunyai saham C 90%, maka dari itu secara tidak langsung perushaan A memiliki (80% x 90%) = 72% saham C. Selanjutnya pada  laporan keuangan C harus masuk ke dalam laporan konsolidasi A.  Struktur ini, yang disajian adalah apakah A punya kendali atas B dan B punya kendali atas C, namun pada  akhirnya kepemilikan A atas C secara tidak langsung kurang dari 50%.

                Sebagai Contoh Perushaan A mempunyai  saham perusahaan B 80%, B mempunyai saham perushaan  C 50%, maka secara tidak langsung A memiliki 80% x 50% = 40% saham C. Meskipun kepemilikan secara tidak A atas C kurang dari 50%,  laporan keuangan perushaan C harus masuk ke dalam laporan konsolidasi A.

                Didalam Indirect Holding ini. Berstruktukan induk-anak- cucu, dan Minoritasnya secara umum tidak langsung mempunyai hak Laba bersih perusahaan cucu, ( sebesar % kepemilikan MINORITAS x % kepemilikan anak terhadap cucu x Laba Bersih cucu)

( Mutual Holding)

Hubungan afiliasi akan semakin kompleks jika antar perusahaan induk dan perusahaan anak terjadi saling memiliki saham. Perusahaan induk satu pihak memiliki saham-saham perusahaan anak dan dipihak lain perusahaan anak juga memiliki sebagian saham-saham perusahaan induk. Apabila hal ini terjadi maka laba (rugi) dan atau kenaikan (penurunan) saldo laba yang ditahan selama terjadinya saling  pemilikan dari perusahaan-perusahaan afiliasi akan saling mempengaruhi satu sama lain.

     Satu hal yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa, terhadap saham-saham perusahaan induk yang dimiliki oleh perusahaan anak tidak boleh diperlakukan sebagai modal saham yang beredar di dalam neraca yang dikonsolidasi. Di dalam neraca konsolidasi hak-hak pemilikan saham oleh perusahaan anak atas perusahaan induk harus dieliminasi.Adapun prosedur eliminasinya dilakukan dengan cara yang sama terhadap hak pemilikan perusahaan induk pada perusahaan anak.

  • Hak control yang diperoleh dengan pemilikan tidak secara langsung:
  1. Pemilikan saham-saham perusahaan anak, terjadi sesudah adanya hak control oleh perusahaan induk pada perusahaan sub induk.
  2.  Pemilikan saham-saham perusahaan anak, terjadi sebelum adanya kontrol oleh perusahaan induk pada perusahaan sub induk.
  3. Hak control yang diperoleh dengan adanya hubungan afiliasi di antara perusahaan-perusahaan (anak).

Pemilikan Tidak Langsung

Yang dimaksud dengan Pemilikan tidak langsung adalah investasi yang memungkinkan investor untuk mengendalikan atau mempengaruhi secara signifikan perusahaan lain tidak melalui kepemilikan saham langsung, melainkan melalui anak perusahaannya. Struktur indirect holding terdiri dari dua macam yaitu struktur induk-anak-cucu (Induk-Anak-Cucu) dan struktur afiliasi terkoneksi (Afilitas Terikat).

Indirect holding ( struktur anak cucu )

Perushaan A mempunyai saham B 80%, B mempunyai saham C 90%, maka dari itu secara tidak langsung perushaan A memiliki (80% x 90%) = 72% saham C. Selanjutnya pada  laporan keuangan C harus masuk ke dalam laporan konsolidasi A.  Struktur ini, yang disajian adalah apakah A punya kendali atas B dan B punya kendali atas C, namun pada  akhirnya kepemilikan A atas C secara tidak langsung kurang dari 50%.

Sebagai Contoh Perushaan A mempunyai  saham perusahaan B 80%, B mempunyai saham perushaan  C 50%, maka secara tidak langsung A memiliki 80% x 50% = 40% saham C. Meskipun kepemilikan secara tidak A atas C kurang dari 50%,  laporan keuangan perushaan C harus masuk ke dalam laporan konsolidasi A.

Didalam Indirect Holding ini. Berstruktukan induk-anak- cucu, dan Minoritasnya secara umum tidak langsung mempunyai hak Laba bersih perusahaan cucu, ( sebesar % kepemilikan MINORITAS x % kepemilikan anak terhadap cucu x Laba Bersih cucu)

( Mutual Holding)

Hubungan afiliasi akan semakin kompleks jika antar perusahaan induk dan perusahaan anak terjadi saling memiliki saham. Perusahaan induk satu pihak memiliki saham-saham perusahaan anak dan dipihak lain perusahaan anak juga memiliki sebagian saham-saham perusahaan induk. Apabila hal ini terjadi maka laba (rugi) dan atau kenaikan (penurunan) saldo laba yang ditahan selama terjadinya saling  pemilikan dari perusahaan-perusahaan afiliasi akan saling mempengaruhi satu sama lain.

Satu hal yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa, terhadap saham-saham perusahaan induk yang dimiliki oleh perusahaan anak tidak boleh diperlakukan sebagai modal saham yang beredar di dalam neraca yang dikonsolidasi. Di dalam neraca konsolidasi hak-hak pemilikan saham oleh perusahaan anak atas perusahaan induk harus dieliminasi.Adapun prosedur eliminasinya dilakukan dengan cara yang sama terhadap hak pemilikan perusahaan induk pada perusahaan anak.

  • Hak control yang diperoleh dengan pemilikan tidak secara langsung:
  1. Pemilikan saham-saham perusahaan anak, terjadi sesudah adanya hak control oleh perusahaan induk pada perusahaan sub induk.
  2.  Pemilikan saham-saham perusahaan anak, terjadi sebelum adanya kontrol oleh perusahaan induk pada perusahaan sub induk.
  3. Hak control yang diperoleh dengan adanya hubungan afiliasi di antara perusahaan-perusahaan (anak).

 

Sumber:

http://wawanandi.blogspot.co.id/2014/05/konsolidasi-pemilikan-tidak-langsung.html

Laporan Konsolidasi: Perubahan Kepemilikan

Salah satu kriteria persekutuan adalah mempunyai umur (jangka waktu) yang terbatas, dimana terjadinya perubahan pemilikan dalam persekutuan. Ada beberapa transaksi yang menyebabkan perubahan kepemilikan dalam persekutuan :

1. Masuknya sekutu baru melalui pembelian hak sekutu lama

  • Sekutu baru membeli sebagian modal sekutu lama
  • Sekutu baru membeli seluruh modal sekutu lama

2. Masuknya sekutu baru dengan cara menyetor modal

  • Investasi persekutuan pada nilai modal yang disetor
  • Investasi dengan memberikan bonus kepada sekutu lama atau sekutu baru
  • Investasi dengan memberikan goodwill kepada sekutu lama atau sekutu baru

3. Keluarnya salah satu sekutu dari persekutuan

  • Pembayaran lebih besar dari modal yang dimiliki sekutu yang mengundurkan diri
  • Pembayaran lebih kecil dari modal yang dimiliki sekutu yang mengundurkan diri

4. Meninggalnya salah seorang atau lebih sekutu

  • Hak kepemilikan sekutu yang meninggal dibeli oleh sekutu yang masih hidup
  • Hak kepemilikan sekutu yang meninggal dilanjutkan oleh ahli warisnya

5. Mengubah persekutuan menjadi perseroan terbatas



PENGERTIAN DAN PENGARUH ADANYA PERUBAHAN HAK MILIK PERUSAHAAN

 Penggabungan usaha merupakan usaha untuk menggabungkan suatu perusahaan dengan satu atau lebih perusahaan lain ke dalam satu kesatuan ekonomi.

Perubahan dalam saldo rekening investasi saham-saham perusahaan anak dalam hal ini tidak disebabkan oleh perubahan nilai investasi seperti halnya pada metode equity.Tetapi perubahan itu disebabkan oleh bertambah atau berkurangnya jumlah relativepemilikan saham dari jumlah saham-saham perusahaan anak. Perubahan- perubahan semacam ini tidak saja disebabkan oleh pemilikan saham perusahaan anak yang dilakukan secara bertahap, akan tetapi banyak hal- hal lain yang mengakibatkan perubahan yang serupa.

Hal yang mengakibatkan perubahan-perubahan hak pemilikan dan pengaruhnya terhadap penyususnan neraca konsolidasi, antara lain:

  • Pembelian saham perusahaan anak dilakukan lebih dari satu kali, hak kontrol diperoleh sejak saat pembelian saham pada tahap pertama.
  • Pembelian saham perusahaan anak dilakukan lebih dari satu kali, hak kontrol diperoleh baru stelah beberapa tahap pembelian saham
  • Pembelian dan penjualan kembali sebagian dari saham-saham perusahaan anak yang dimiliki perusahaan induk
  • Emisi saham dan atau penarikan kembali saham-saham perusahaan anak yang mempengaruhi hak-hak pemilikan perusahaan induk
  • Transaksi-transaksi saham yang ditarik dari peredaran (Treasury Stock) pada perusahaan anak.

PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK PEMBELIAN DAN PENJUALAN KEMBALI SEBAGIAN DARI SAHAM PERUSAHAAN ANAK YANG DI MILIKI PERUSAHAAN INDUK

Meskipun tujuan pemilikan saham-saham pada perusahaan anak tidak untuk diperjualbelikan, akan tetapi dalam keadaan tertentu perusahaan induk dapat menjual kembali sebagian dari saham-saham perusahaan anak yang telah dimilikinya. Apabila hal ini terjadi, berarti akan mengurangi tidak saja hak pemilikannya pada perusahaan anak melainkan juga nilai investasinya. Pengaruh berkurangnya hak pemilikan dapat segera ditentukan dengan mudah karena berhubungan dengan jumlah lembar saham-sahamnya, sehingga tidak menimbulkan banyak masalah didalam penyusunan neraca konsolidasi selanjutnya, setelah terjadinya penjualan saham-saham tersebut.

Akan tetapi tidak demikian halnya dengan berkurangnya nilai investasi, khususnya apabila saham-saham perusahaan anak itu semula diperoleh melalui beberapa tahap pembelian dan dengan harga (perolehan) yang berbeda-beda.

PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK EMISI SAHAM DAN PENARIKAN KEMBALI SAHAM PERUSAHAAN ANAK YANG DIPENGARUHI HAK KEPIMILIKAN PERUSAHAN INDUK

Hak pemilikan saham oleh perusahaan induk pada perusahaan anak bisa berubah-ubah, tidak saja di sebabkan oleh transaksi pembelian dan penjualan saham-saham yang bersangkutan oleh perusahaan induk melainkan juga transaksi modal ( saham ) yang terjadi pada perusahaan anak sendiri.

Transaksi-transaksi modal (saham) pada perusahaan anak akan mempengaruhi secara tidak langsung pada bagian pemilikan perusahaan induk. Pengeluaran saham-saham baru (emisi saham) oleh perusahaan anak misalnya, akan mengakibatkan berkurangnya hak-hak pemilikan perusahaan induk, apabila atas emisi saham tersebut perusahaan induk tidak berhasil memperoleh/memiliki saham-saham yang baru tersebut sama dengan prosentase pemilikannya semula.

Dilain pihak penarikan kembali (pelunasan) sebagian modal saham oleh perusahaan anak pada pemegang saham minoritas akan berakibat kenaikan terhadap prosentase pemilikan saham bagi perusahaan induk. Perubahan hak-hak pemilikan yang disebabkan oleh terjadinya perubahan pada struktur permodalan perusahaan anak, memerlukan perhatian dan analisa khusus dalam rangka penyusunan neraca konsolidasi

AKUISISI BAGIAN PER BAGIAN

Akuisisi per bagian ( Piecemeal Acquisitioan ) tersebut tidak menimbulkan masalah analisis yang baru jika perusahaan induk memperhitungkan investasinya berdasarkan metode ekuitas. Akan tetapi, ekuitas seperti ini memerlukan rincian perhitungan laba investasi dan laba bersih konsolidasi yang lebih banyak. Hal ini juga akan mempersulit penyusunan laporan keuangan konsolidasi karena selisih biaya investasi/nilai buku akan berkaitan dengan setiap akuisisi atas dasar total kepemilikan yang dimiliki.

 Ayat Jurnal :

a)   Laba PT.Anak                              xxx

                                                Investasi PT.Anak                 xxx

(Untuk mengeliminasi laba investasi dan mengembalikan akun investasi ke saldo awal periode, ditambah investasi baru)

b)   Laba Praakuisisi                         xxx

      Laba ditahan                               xxx

     Modal Saham                              xxx

     Goodwill                                       xxx

                                    Investasi PT.Anak                             xxx

                                    Hak Minoritas                                   xxx

(Untuk mengeliminasi saldo investasi dalam PT.Anak dan ekuitas PT.Anak serta memasukan laba Praakuisisi,Goodwill, dan Hak Minoritas)

c)   Beban Hak Minoritas                              xxx

                        Hak Minoritas                                               xxx

(Untuk mencatat hak minoritas dalam laba bersih PT.Anak)

PENJUALAN KEPENTINGAN KEPEMILIKAN

Apabila perusahaan induk /investor menjual kepentingan kepemilikan, keuntungan atau kerugian atas penjualan dihitung sebagai perbedaan antara hasil penjualan dan nilai buku investasi yang dijual. Nilai buku investasi harus mengrefleksikan metode ekuitas jika investor mampu menggunakan pengaruh yang signifikan terhadapa perusahaan investee. Jika perusahaan induk memperoleh kepemilikannya melalui beberapa pembelian berbeda, saham yang dijual harus diidentifikasikan dengan akuisisi tertentu. Hal ini biasanya dilakukan atas dasar identifikasi khusus atau asumsi arus FIFO ( First In – First Out).

Penjualan kepemilikan dalam perusahaan anak selama satu periode akuntansi akan meningkatkan hak minoritas dan memerlukan beberapa perubahan perhitungan beban hak minoritas.

PERUBAHAN KEPENTINGAN KEPEMILIKAN DARI TRANSAKSI SAHAM PERUSAHAAN     ANAK.

Penerbitan saham perusahaan anak merupakan suatu memperluas operasi perusahaan anak melaui pembiayaan eksternal. Operasi perusahaan anak juga diperluas melalui penerbitan saham perusahaan anak ke pada publik.

Kepemilikan perusahaan induk/investor dalam perusahaan anak/investee akan berubah akibat perusahaan anak menjual saham tambahan atau melalui pembelian saham miliknya. Pengaruh aktifitas seperti ini terdapat perusahaan induk/investor tergantung pada harga ketika saham tambahan dijual atau saham treasury dibeli dan pad apakah perusahaan induk terlibat secara langsung dalam transaksi dengan perusahaan anak.

a. Penjualan Saham Tambahan oleh Perusahaan Anak.

Penjualan saham tambahan oleh perusahan anak akan mengubah presentase kepemilikan perusahaan induk dalam perusahaan anakkecuali saham yang dijual kepada perusahaan induk dan pemegang saham minoritas proposional dengan kepemilikikannya. Penjualan saham tambahan secara langsung kepad perusahaan induk akan meningkatkan kepemilikan perusahaan induk dan mengurangi kepemilikan pemegang saham minoritas. Penerbitan saham tambahan kepada pemegang saham minoritas atau entitas luar oleh perusahaan anak akan menurunkan presentasi kepemilikan perusahaan indukdan meningkatkan kepemilikan pemegang saham minoritas.

b. Transaksi Saham Treasury oleh Perusahaan Anak.

Akuisisi saham treasury oleh perusahaan anak mengurangi ekuitas perusahaan anak dan saham yang beredar perusahaan anak. Jika perusahaan anak mengakuisisi saham treasury dari pemegang saham minoritas pada nilai buku, tidak ada perubahan yang terjadi pada bagian perusahaan induk atas ekuitas perusahaan anak meskipun presentase kepemilikan perusahaan induk meningkat. Pembelian saham miliknya sendiri dari pemegang saham minoritas dengan harga di atas atau dibawa nilai buku akan menurunkan atau meningkatkan bagian perusahaan induk atas nilai buku perusahaan anak dan waktu yang sama meningkatkan presentase  kepemilikan perusahaan induk.

Transaksi saham treasury yang selalu sering dan tidak singifikan oleh perusahaan anak cenderung  dioffset dengan pembelian dan penjualan serta tidak memerlukan penyesuaian seperti yang telah diilustrasikan.

DEVIDEN SAHAM DAN PEMECAHAN SAHAM OLEH PERUSAHAAN ANAK.

Deviden saham ( stock dividen) dan pemecahan saham (stock split)oleh perusahaan anak yang dimiliki secara substansial belum begitu umum kecuali hak minoritas tersebut diperdagangkan secara aktif di pasar sekuritas. Hal ini disebabkan manajemen perusahaan induk mengendalikan tindakan tersebut dan biasanya tidak ada manfaatnya yang diperoleh oleh entitas konsolidasi atau perusahaan induk dari kenaikan jumlah saham yang beredar milik perusahaan anak melalui pemecahan saham atau deviden saham.

Akuntansi perusahaan induk dan prosedur konsolidasisan tidak dipengaruhi oleh pemecahan saham perusahaan anak. Akan tetapi, deviden saham perusahaan anak akan menyebabkan perubahan kertas kerja konsolidasi.

Produksi dan Produktivitas Perkebunan Teh di Sumatera Utara

Temperatur dan kelembaban yang konstan adalah keadaan ideal untuk pertumbuhan tanaman teh. Kondisi tersebut dapat ditemukan di wilayah iklim tropis dan subtropis di Asia tempat lebih dari 60% teh dunia diproduksi. Dataran tinggi yang dingin merupakan tempat paling baik untuk memproduksi daun teh berkualitas tinggi. Tanaman teh dapat dipanen untuk pertama kalinya setelah mencapai usia kira-kira empat tahun. Ketika panen, hanya daun-daun muda yang dipilih, mengimplikasikan bahwa pemetikan manual lebih efisien dibandingkan menggunakan peralatan mesin. Karenanya, produksi teh adalah bisnis padat tenaga kerja.

Dua negara yang mendominasi produksi teh global adalah Cina dan India. Bersama-sama kedua negara ini berkontribusi untuk hampir setengah dari produksi teh dunia.

Negara Produsen Teh Terbesar pada Tahun 2014:

1. Cina       1,980,000
2. India       1,184,800
3. Kenia         445,105
4. Sri Lanka         338,032
7. Indonesia         132,000

dalam ton metrik
Sumber: Statista

TEH DI INDONESIA

Produksi dan Ekspor Teh Indonesia

Indonesia saat ini adalah produsen teh terbesar ketujuh di dunia. Kendati begitu, karena prospek bisnis yang menguntungkan dari kelapa sawit, hasil produksi teh telah menurun di beberapa tahun terakhir karena beberapa perkebunan teh telah diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, sementara perkebunan-perkebunan teh yang lain telah menghentikan produksi untuk memproduksi sayuran atau produk pertanian lain yang lebih menguntungkan. Meskipun ada penurunan luas lahan, jumlah produksi teh tetap relatif stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa perkebunan-perkebunan teh yang tersisa menjadi lebih produktif.

Produksi & Ekspor Indonesia:

   2008    2009    2010    2011    2012
   2013    2014    2015
Produksi Teh
(dlm ton metrik)
153,971 156,900 156,600 150,800 150,900 152,700 146,682 130,000
Ekspor Teh
(dlm ton metrik)
 91,700  92,300  87,100  75,500  70,100  70,800  62,700

Sumber: Food and Agriculture Organization of the United Nations

Provinsi-provinsi yang memproduksi teh paling banyak di Indonesia adalah:

1. Jawa Barat (menyumbang sekitar 70% dari produksi teh nasional)
2. Jawa Tengah
3. Sumatra Utara

Hampir setengah dari produksi teh Indonesia diekspor keluar negeri. Pasar ekspor utamanya adalah Rusia, Inggris, dan Pakistan. Teh Indonesia yang diekspor terutama berasal dari perkebunan-perkebunan besar di negara ini, baik yang dimiliki negara maupun swasta (biasanya menghasilkan teh bermutu tinggi atau premium), sementara mayoritas petani kecil lebih berorientasi kepada pasar domestik (karena teh yang dihasilkan berkualitas lebih rendah dan karenanya memiliki harga penjualan yang lebih murah). Petani-petani kecil ini, yang kebanyakan menggunakan teknologi lama dan metode-metode pertanian yang sederhana, biasanya tidak memiliki fasilitas pengolahan. Pasar domestik teh tidaklah besar, direfleksikan oleh tingkat konsumsi teh per kapita Indonesia yang rendah. Pada tahun 2014, penduduk Indonesia mengkonsumsi rata-rata 0,32 kilogram teh per orang per hari (rata-rata dunia adalah 0,57 kilogram in 2014, sementara Turki jelas merupakan pengkonsumsi terbesar dengan 7,54 kilogram).

Perkebunan-perkebunan teh yang besar di Indonesia biasanya dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (contohnya Perkebunan Nusantara). Beberapa contoh dari pembudidaya teh swasta yang besar adalah Kabepe Chakra dan Gunung Slamat. Perusahaan barang konsumen Unilever Indonesia membeli bahan mentah tehnya dari perkebunan-perkebunan milik negara atau swasta untuk memproduksi produk-produk tehnya.

Dibandingkan dengan negara-negara utama penghasil teh lainnya, hasil produksi (per hektar) Indonesia rendah karena kebanyakan petani kecil kekurangan kemampuan finansial dan keahlian untuk mengoptimalkan produksi, sementara sebagian besar dari teh Indonesia ditumbuhkan dari biji dan bukannya dari hasil stek daun teh.

Teh Indonesia dikenal karena memiliki kandungan katekin (antioksidan alami) tertinggi di dunia. Kebanyakan produksi teh Indonesia adalah teh hitam, diikuti oleh teh hijau.

Mirip dengan komoditi-komoditi lain, Indonesia bergantung pada ekspor teh produk primer (hulu). Kurang berkembangnya industri hilir teh Indonesia mengurangi daya saing industri teh Indonesia di pasar internasional. Ekspor produk-produk hilir teh berkontribusi hanya untuk kira-kira 6% dari total eskpor teh.

Sumber:

https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/teh/item240?

Luas Areal Perkebunan Teh di Sumatera Utara

PT PERKEBUNAN NUSANTARA IV BAH BUTONG

Image result for bah butong Image result for PABRIK bah butong
SEJARAH SINGKAT PT PERKEBUNAN IV KEBUN BAH BUTONG
Perkebunan Bah Butong dibuka dibuka pada tahun 1917 oleh Nederland Hand Maskapai (NV.NHM). Pabrik pertama didirikan pada tahun 1927 dan mulai beroperasi sejak tahun 1931.
Secara kelembagaan, tahun 1957 Pemerintah Indonesia melakukan pengambil alihan perusahaan yang dikelola bangsa asing, termasuk perusahaan NHM, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 229/UM/57, tanggal 10 Agustus 1957 yang diperkuat dengan Undang-Undang Nasionalisasi Nomor. 86/1958.
Tahun 1961, PPN Baru dan Pusat Perkebunan Negara dilebur menjadi Badan Pimpinan Umum PPN Daerah Sumatera Utara I-IX melalui U.U. Nomor, 141 Tahun 1961 Sumut III dan Jo PP Nomor 141 Tahun 1961.
Tahun 1963 Perkebunan Teh Sumatera Utara dialihkan menjadi Perusahaan Aneka Tanaman IV (ANTAN-IV) melalui PP Nomor. 27 Tahun 1963.
Tahun 1968 terjadi perubahan menjadi Perusahaan Negara Perkebunanan VIII (PNP VIII) melalui PP Nomor 141 Tahun 1968 Tanggal 13 April 1968.
Perubahan berikutnya mulai tahun 1974 menjadi Persero yaitu PT Perkebunan VIII (PTP VIII) melalui Akta Notaris GHS Lumban Tobing SH Nomor. 65 Tanggal ; 31 April 1974 yang diperkuat SK Menteri Pertanian Nomor. YA/5/5/23, Tanggal : 07 Januari 1975.
Semenjak tanggal 11 Maret 1996 terjadi restrukturisasi kembali, dimana Perkebunan Bah Butong masuk dalam lingkup PTP Nusantara IV melalui Akte Pendirian PTPN IV Nomor. 37 Tanggal 11 Maret 1996 yang mengatur pelebaran PTP VI, VII, dan VIII menjadi PT Perkebunan Nusantara IV (PERSERO).
Sejak tahun 1998 s/d 2000 dibangun pabrik baru yang lebih besar dan modern, diresmikan Tanggal 20 Januari 2001.
Lokasi Kebun Bah Butong berada di Kecamatan Sidamanik, 26 km dari Kota Pematang Siantar dan 155 km dari Kantor Pusat yang berada di Kota Medan.
Luas Areal HGU = 2.684.84 Ha dengan luas TM = 428,20 Ha dengan ketinggian = 890 mdpl. Jenis klon Tanaman teh terdiri dari Tanaman Klonal (Gambung Group).
Komposisi areal :
Luas areal TM                       :     428.20 Ha
Luas areal TBM-I                  :       66.06 Ha
Luas areal TBM-I K.Sawit    :       11.00 Ha
Luas areal TBM-II                 :      121.94 Ha
Luas areal TB-0                     :      125.04 Ha
Luas areal di berahkan          :      897.65 Ha
Rencana TU 2012                 :      143.70 Ha
Luas areal lain-lain               :      891.25 Ha

Uraian 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Karyawan Pimpinan
9
9
8
8
8
11
Karyawan Pelaksana
1.147
1.114
1.066
1.032
978
926
Jumlah
1.156
1.123
1.074
1.040
986
937

PENGOLAHAN TEH HITAM
Sistem pengolahan the hitam ada 2 macam yaitu : sistem ORTODOX dan system CTC. Perkebunan Bah Butong menholah the hitam dengan system kombinasi ORTODOX – Rotor Vane dengan kapasitas olah : 1.530 kg the kering per jam dan kapasitas tamping Daun Teh Basah ± 100 Ton. Tahapan pengolahan the hitam sbb :
I.Stasiun Penerimaan Daun The Basah
Pelayanan DTB dari afdeling dilakukan 3 9tiga) kali sehari. DTB diangkut ke ruang Pelayuan dan dimsukkan ke WT (withering Trough) dengan alat angkut MONORAIL, selanjutnya DTB dibeber/dikirap untuk dilayukan.
II.Stasiun Pelayuan
Pelayuan DTB bertujuan untuk menurunkan kandungan air, sehingga DTB menjadi layu fisik serta member kesempatan terjadinya perubahan senyawa-senyawa kimia. Untuk membantu proses pelayuan dialirkan udara panas dari Heat Exchanger dengan suhu 26-300C. Lama pelayuan antara 18 s/d 20 jam.
III. Stasiun Penggulungan
Penggulungan bertujuan untuk memeras/memulas cairan getah daun dan untuk membentuk pecahan daun menjadi menggulung. Skema penggulungan yang dipakai OTR-PCR-RV-RV. Pada proses ini dihasilkan Bubuk-I, II, III, IV dan Badag. Selama proses penggulungan, suhu dan kelembaban ruangan harus tetap terjaga antara 22-240C dan RH>95%. Untuk mengendalikan suhu dan RH digunakan alat pengabut air (Humidifier)
IV.Stasiun Fermentasi (Oksidasi Enzimatis)
Fermentasi / Oksidasi Enzimatis bertujuan untuk memberikan kesempatan terjadinya reaksi Oksidasi Enzymatis dalam bubuk the dan mengendalikannya sehingga terbentuk kualitas the hitam yang baik.
Negara tujuan Eksport Teh:
1. Negara-negara Timur Tengah : – Mesir, Irak, Iran, Syria.
2. Negara-negara Eropa               : – Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Prancis, Spayol, Inggris.
3. Negara-negara lain                  : – Amerika, Australia, New Zealand, Fiji, Taiwan, Singapura,
Malaysia, China, Pakistan

Sumber: